Gitar Radix dari Tangerang ke Dunia

SEPERTI yang diberitakan sebelumnya, Toein Bernadhie memulai usaha gitar Radix hanya bermodalkan ilmu yang didapat dari internet. Saat itu tepatnya pada tahun 1995 Toein mulai belajar membuat gitar sendiri tanpa contoh fisik dan guru.

Usai mengetahui sejarah awal mula terbentuknya Gitar Radix, kali ini yang akan kita bahas adalah lika-liku bisnis yang dijalani oleh founder Gitar Radix, Toein Bernadhie. Toein harus berjibaku berjuang sendirian membesarkan nama Gitar Radix produk asli Indonesia yang telah mendunia.

Berbicara soal bisnis, pastinya erat kaitan dengan modal usaha, dalam hal ini Toein mengaku seluruh modal berasal dari dirinya sendiri alias mandiri sejak awal berdirinya Radix.

“Modal usaha semuanya dari sendiri sejak awal, tidak dari bank dan lain-lain,” jelas Toein saat ditemui merahputih.com di workshop Gitar Radix yang berada di kawasan Industri Jatake, Tangerang, Banten.

Aksi Toein memulai bisnis gitar elektrik produksi sendiri di pasar industri musik tanah air memang terbilang cukup berani. Ia mengusung brand original Indonesia yang cash flownya dirasa belum jelas tak seperti brand gitar yang namanya sudah meroket. Kendati demikian Toein yakin bisa membawa nama gitar buatan asli Indonesia ke kancah dunia.

Kualitas gitar Radix, tak bisa dianggap remeh, karena pemilihan bahan bakunya merupakan kayu-kayu dengan kualitas terbaik perpaduan antara kayu Indonesia dan kayu impor dari luar negeri.

“Kalau kayu sebagian besar dari Indonesia, cuma ada beberapa bagian kayu itu kita harus impor dari Amerika dan Kanada,” ungkap Toein.

Bagian terpenting dari gitar tak hanya kayu, partikel-partikel penting seperti hardware, pick up, dan aksesorisnya lainnya yang disematkan pada Gitar Radix merupakan barang-barang yang berkualitas tinggi. Bahan-bahan itu diimpornya dari Korea. Seperti pickupnya dari brand ternama Seymor Duncan. Hebatnya, seluruh proses dari awal hingga akhir pembuatan gitar dikerjakan di workshop Radix.

Saat ini, dari mulai Toein Bernardhie seorang diri yang membangun Gitar Radix, dirinya kini telah memiliki 80 orang karyawan, yang bisa memproduksi sekitar 50-60 gitar dalam waktu 1 bulan.

Mengenai soal karakter gitar Radix, gitar buatan Indonesia ini cenderung lebih ke arah rock. Itu karena Toen melihat rock terlihat lebih hidup, flashy, lebih wah dan mudah untuk dipromosikan. Alasan lain biasanya para musisi rock terlihat lebih mengedepankan penampilan dan atraktif di atas panggung serta banyak dijadikan panutan oleh para pecinta musik.

Harga gitar Radix mulai dari angka Rp4,5 juta hingga Rp4,85 juta tergantung dari spesifikasi dan model. Tapi tak hanya gitar yang diproduksi saja yang dijual, para konsumen juga bisa memesan gitar kostumisasi sesuai selera.

Omset penjualan sendiri tak tanggung-tanggung, pada tahun 2006-2008 Toen dapat menjual gitar 100-150 unit dalam 1 bulan. Sayangnya saat ini Toein mengaku agak mengalami penurunan, tapi paling tidak bisa menjual sekitar 40 hingga 60 unit gitar dalam hitungan bulan. Toein membidik penjualan pada gitaris kelas menengah yang mengerti soal sound, kualitas dan nilai sebenarnya sebuah gitar. (ryn)

Cek artikel aslinya di sini

Tagged , , , , ,

. .