Kisah Awal Mula Terbentuknya Gitar “Radix” yang Mendunia

BISNIS pembuatan gitar elektrik memang terbilang jarang di Indonesia, terlebih lagi yang berani mengusung merek asli Indonesia. Namun ternyata ada sebuah produsen gitar dari tanah air yang kini namanya telah mendunia yaitu “Radix”.

Lahirnya nama “Radix” sendiri tak tercipta dengan cepat, pasalnya, Toein Bernardhieselaku founder dari “Radix” harus melewati lika liku yang yang panjang hingga akhirnya terciptalah nama “Radix” yang kini telah mendunia.

Sebelum memutuskan untuk memulai bisnis gitar, awal mulanya pria yang akrab disapa Mas Toein tersebut memiliki keinginan untuk membuat gitar sendiri. Hal itu lantaran terbatasnya dana untuk membeli sebuah gitar baru. Sejak saat itu Toein pun memberanikan diri untuk merakit sebuah gitar dari nol.

“Intinya gini dulu pertama kali sebelum jadi sebuah bisnis, saya pengen membuat gitar sendiri, karena alasanya mungkin tidak bijak untuk beli gitar dengan situasi yang belum pas, kemudian saya membuat gitar sendiri dengan mengumpulkan bahan, sparepart, dan mengumpulkan segala macem,” ucap Toein saat ditemui merahputih.com di pabrik gitar Radix yang berada di kawasan Industri Jatake, Tangerang, Selasa (22/8).

Namun sayangnya alih-alih membuat gitar sendiri untuk memotong budget, tapi justru jumlah modal yang dikeluarkan lebih dari cukup untuk membeli sebuah gitar Gibson yang harganya selangit. Karena tak mau rugi, Toen memutuskan terjun ke bisnis pembuatan gitar agar balik modal.

“Setelah dihitung-hitung jumlah yang saya keluarkan lebih dari cukup untuk membeli sebuah gitar baru yang bagus, jadi kira-kira kalau modal di awal yah kalo dihitung atau komparasi, kira-kira kita bisa membeli sebuah gibson lahh. Namun ternyata akhirnya enggak lucu juga sih, ini harus jadi duit, harus balik, terus akhirnya saya putuskan menjadikan gitar making sebagai bisnis,” Kata Toein seraya tersenyum.

Terjunnya Toein ke bisnis pembuatan gitar memang terbilang cukup nekat, pasalnya, Toein hanya memiliki bekal ilmu yang ditimbanya lewat internet di tahun 1995, tanpa kursus atau bantuan apapun.

“Tadinya awalnya tidak untuk bisnis, saya hobi dan suka main gitar, kemudian saya pelajarin beberapa literatur dari internet saat internet baru dibuka sekitar tahun 1995, saat itu saya tertarik kayanya bagus nih bikin gitar, kebetulan di Indonesia belum terlalu banyak waktu itu,” ucap Mas Toein.

Usai dirasa cukup memiliki bekal Toein pun mulai mendirikan bisnisnya secara perlahan. Hingga akhirnya di tahun 2003 ia dikenalkan dengan Ridho, gitaris grup band Slank, lalu munculah kesepakatan mendirikan bisnis bersama. Saat itu mereka belum mengusung nama “Radix” melainkan “Marlique” di tahun 2004.

(Foto: Merahputih/Rizki Fitrianto)

Seiring berjalannya waktu, setelah empat tahun gitar “Marlique” berjalan, akhirnya Toein dan Ridho memutuskan untuk tak melanjutkan kerjasama. Tapi meski begitu, semangat Toein untuk berbisnis di bidang pembuatan gitar tidak kendur, pasalnya Toein pun akhirnya berdiri sendiri di tahun 2009 dengan mengusung nama “Radix”.

“Tahun 2008 kita putuskan untuk tidak melanjutkan marlique, terus mei 2009 saya ganti nama dengan “Radix”, saya meneruskan sendirian “Radix” tidak dengan ridho,” kata Toein.

Semenjak terciptanya nama “Radix” perlahan tapi pasti brand asli Indonesia ini mulai dikenal masyarakat luas, khususnya para musisi tanah air. “Radix” pun saat ini merupakan salah satu merek gitar lokal buatan Indonesia yang patut diperhitungkan. Bagaimana tidak, gitar besutan dari Toein Bernardhi tersebut telah diminati pasar internasional, seperti Belanda, Finlandia, Malaysia, dan Chile.

Bravo Gitar Indonesia, semoga namanya semakin mendunia. (*)

Penasaran seperti apa gitar Radix? yuk simak video dibawah ini

Cek artikel aslinya di sini

Tagged , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − 6 =


. .